![]() |
| Sungai itu wajah peradaban. (Foto Ilustrasi: Sungai di wilayah Jombang-Jatim/cs) |
Aku tidak sedang menulis lakon pementasan tentang sungai. Juga tidak sedang mempersiapkan puisi tentang sungai.
Bagiku, sungai sudah terlalu puitik. Dan sungai - di negeri ini - telah menyajikan lakonnya sendiri. Sebuah cerita yang sangat teaterikal.
Sungai hari ini, telah memerankan sisi protagonik dan antagonik yang sangat menarik. Bak seorang aktor yang hadir multitafsir di atas panggung realitas.
Baca Juga: ESAINOLOG: HUJAN TERLALU PAGI
Imaji sungai menyuguhkan pemandangan manivestatif dari moralitas masyarakat kekinian.
Air yang mengalir, muatan sampah, atau ikan kecil yang berlompatan di sela bebatuan, menjadi petanda kedalaman penghayatan moralitas.
Sintesis Peradaban
Sungai pun menjadi portal untuk membaca pemahaman komunal tentang makna hidup. Sekaligus menjadi sintesis dari peradaban.
Sekali lagi, aku hanya ingin memahami sungai - dalam keberagaman iklim - menjadi wajah masyarakat.
Tak perlu terjebak dikotomi desa atau kota, kehadiran aliran sungai menandai wajah kualitas penghayatan tata nilai.
Sejenak kita renungkan. #
Simak Juga: TEATER: EKSISTENSI ATAU EKSPLORASI

0 Komentar