Sungai itu wajah peradaban. (Foto Ilustrasi: Sungai di wilayah Jombang-Jatim/cs) Aku tidak sedang menulis lakon pementasan tentang sungai. Juga tidak sedang mempersiapkan puisi tentang sungai. Bagiku, sungai sudah terlalu puitik. Dan sungai - di negeri ini - telah menyajikan lakonnya sendiri. Sebuah cerita yang sangat teaterikal. Sungai hari ini, telah memerankan sisi protagonik dan antagonik yang sangat menarik. Bak seorang aktor yang hadir multitafsir di atas panggung realitas. Baca Juga : ESAINOLOG: HUJAN TERLALU PAGI Imaji sungai menyug…
By. Cucuk Espe In fields where poppies once danced, Beneath a sky now stained, Whispers of sorrow, a tragic romance, As war's cruel tale is ingrained. Soldiers, like shadows, march in despair, Their eyes reflecting a haunting glare, In the symphony of gun and drum, A requiem for the battles yet to come. Upon a canvas of desolation, painted red, The echoes of war, a symphony of dread, Torn landscapes, shattered dreams, Rivers of tears, silent screams. In the ruins of homes, where laughter once soared, Now s…
Puisi Cucuk Espe Kita masih merah, belum putih Kita masih berdarah-darah, dalam mimpi lirih Hanya merah kesedihan tumpah Tanah Air! Oh, Tanah Air... Inikah merdeka yang terjanjikan itu Di bawah peluru dan derap sepatu Ketika itu angkara adalah biasa Nafsu murka terumbar tanpa jeda. Anak-anak sembunyi dari luka menganga. Tapi, bukankah kita masih merah? Merdeka hanyalah sekedar berani Merdeka hanyalah soal menang kalah Merdeka bukan soal kesadaran diri Akal waras terbungkus kain putih Tersimpan dalam lemari terkunci. ; Jadi merdeka itu apa? Pe…
Media Sosial