![]() |
| Memberi gizi menjadi kewajiban politis. (Ilustrasi: Pexels / RDNE Stock) |
Makanan bergizi! Semua manusia tak akan menolaknya. Menjadi makhluk sehat merupakan harapan semua manusia.
Soal gizi, aku akan tulis 'sangat singkat', terkait realitas yang sedang terjadi di negeri ini. Ya! Frasa 'gizi' kini menjadi sangat politis.
Baca Juga: SUNGAI DAN WAJAH PERADABAN HARI INI
Kemana Ibu-ibu Negeri?
Suka atau tidak, setuju atau tidak, negara ini sedang riuh memberi 'gizi gratis' bagi anak-anak negeri. Sekotak makanan bergizi akan tersaji di meja saat istirahat sekolah.
Apa yang salah? Dalam konteks regulasi formal memang tidak ada yang keliru. Apalagi negara punya kewajiban membentuk generasi muda masa depan yang perkasa.
Pertanyaanku? Kemana potensi ibu-ibu negeri yang pandai memasak untuk anak-anaknya?
Baca Juga: ESAINOLOG: HUJAN TERLALU PAGI
Tafsir Miring
Aku mencoba melakukan tafsir miring atas 'sekotak gizi' yang dikirim TNI / Polri tiap hari.
Agenda tersebut (kalau boleh aku sebut demikian), telah memangkas kreatifitas ibu-ibu untuk memberi bekal makanan kepada anak-anak.
Pagi sambil mengantar anak, tanpa persiapan membuat sarapan, langsung bablas ke salon. Toh makanan bergizi anak-anak telah diurus negara.
Sebuah kondisi negeri yang (mungkin) memerlukan koreksi. Sejatinya, justru akan lebih asyik jika ada agenda mencerdaskan ibu-ibu negeri untuk menciptakan makanan bergizi (dilakukan secara massif).
Artikel Lainnya: TEATER: EKSISTENSI ATAU EKSPLORASI
Kewajiban Politis
Penguatan pemahaman arti penting menciptakan anak-anak unggul dengan mengolah asupan bergizi sendiri. Aku berpikir, hal itu jauh lebih produktif.
Sekali lagi, suka atau tidak, menyajikan 'sekotak gizi' telah menjadi kewajiban politis. Aku berpikir, itu miris! #
Simak Juga: DI JOMBANG, KETEMU CAK NASRUL ILLAHI, NGOBROL GAMBUS MISRI

0 Komentar