Saya menulis naskah teater 'Jalan Terakhir' di tahun 2018 lalu. Dan sejumlah komunitas teater di Indonesia telah mementaskan lakon tersebut dalam berbagai momentum. Uniknya, beberapa kelompok teater yang memanggungkan naskah tersebut, memiliki 'karakter pemahaman' interteks yang khas. Itu yang membuat menarik!
'Jalan Terakhir' sebuah lakon sangat pendek. Cerita tokoh Dargo dan Koyan yang bergelut mempertaruhkan harga diri.
Namun demi 'kemerdekaan otentik' siapapun yang menggarap lakon tersebut, saya tidak ingin mengintervensi penafsiran atas jalinan semiotik lakon tersebut. Kesadaran ini penting, karena dalam konteks ini, saya hanya mencatat atau merangkum tingkah kreatif para penggarap (sejauh saya tahu).
#2
Bekerja dengan aktor, begitulah saya sering menyebutnya. Saya tidak mempedulikan apakah diri saya termasuk 'Stanilavskian' atau 'Boleslawskian', yang jelas membangun keintiman (chemistry) dengan aktor menjadi penting.
Sutradara dan para aktor juga tim produksi pendukung lainnya menjadi kunci penting. Dalam posisi masing-masing, mereka memiliki tugas kreatif menerjemahkan lakon 'Jalan Terakhir' menjadi sajian pertunjukkan yang 'dimengerti penonton'.
Menjadi sebuah pertunjukkan yang dimengerti penonton, memasuki dan merengkuh luka batin penonton, merupakan fenomena teater Indonesia era 2000an yang terlupakan. Teater pun berubah menjadi liar, bar-bar, atas nama kebebasan dramaturgi, menggasak elemen dasar pertunjukkan (termasuk elemen keaktoran).
#3
Memilih bentuk pertunjukkan merupakan pilihan 'jalan proses berteater'. Sepatutnya, apapun jalan yang dipilih, selalu dilandasi kenyataan atas takdir teater sebagai ruang dialektika penyaji dan penonton.
Sutradara ibarat peracik segelas kopi yang --sepatutnya-- siap diteguk penonton dengan beragam latar belakang. Bekerja dengan aktor bukan persoalan sepele, tidak sekedar menggedor aktor dengan elemen dasar keaktoran, tetapi membuka tabir rasa percaya diri atas tafsir naskah yang terpantul melalui jalinan dialog
#4
Akhirnya, lakon 'Jalan Terakhir' saya ibaratkan sebagai portal pembuka bekerjasama dengan aktor untuk menciptakan 'daya sapa' yang energik, logis, penuh takaran emosi yang tepat di hadapan penonton.
Dan dibutuhkan banyak kegilaan untuk membangun proses teater yang menyenangkan. Semoga ini bukan jalan terakhir, bagi siapapun.*
Surabaya, September 2024.
0 Komentar