JOMBANG: KABUPATEN TANPA IKON

Ikon Jombang yang kian compang-camping. (Ilustrasi: Dok)

Aku lahir di kabupaten ini. Kemanapun, nama 'Jombang' dalam segala persepsi selalu melekat padaku setiap memperkenalkan diri. 

Dalam satu sisi aku bangga. Tapi di sisi lain, campur aduk antara malu, sedih, kecewa, hingga marah. 

Ternyata kabupaten tempatku lahir ini, belum memiliki ikon yang 'branded'. Sebuah ikon yang sangat marketable untuk 'menjual' potensi wilayah serta rujukan nilai karakter. 

Baca Juga: GIZI GRATIS DAN KEWAJIBAN POLITIS

Buruknya Strategi Budaya

Jombang dalam segala persepsi merupakan wilayah yang meninggikan toleransi. Sayangnya, tidak diimbangi dengan penguatan regulasi budaya yang utuh.

Ikon merupakan manifestasi potensi kultural yang unggul. Sebut saja, Jombang memiliki ludruk, besut, lerok, juga batik, serta aneka tarian yang khas. 

Baca Juga: SUNGAI DAN WAJAH PERADABAN HARI INI

Sayangnya, Jombang semakin asyik dibelit 'hasrat politisnya' sendiri. Landskap kabupaten ini, bak mozaik kota-kota (tempat petinggi studi tiru), yang tidak memiliki tautan kultural dengan Jombang. 

Kemana potensi kultural orijinal Jombang yang mampu menjadi ikon wilayah? 

Tapi kalau konteks berpikirnya politis, selesai sudah! Wilayah tempatku lahir ini akan menjadi 'zona kultural compang-camping'. # 

Artikel Lainnya: DI JOMBANG, KETEMU CAK NASRUL ILLAHI, NGOBROL GAMBUS MISRI


Posting Komentar

0 Komentar