Mengapa memilih menyendiri dan diam diri?



Aku semakin paham mengapa para tetua atau kakek buyut dulu sering menyendiri dan berdiam diri di suatu tempat. 

Lepas dari hedonisme dalam rangka mendengarkan suara nurani merupakan tujuan tertinggi. 

Bukan untuk menyia-nyiakan harta dan segala kesenangan tetapi melatih diri "menyapa" kesenangan dengan sewajarnya. Itu yang penting!

Terlalu banyak gelimang kesenangan, kecurangan, kebohongan, keserakahan, dan kemunafikan yang mematikan kejernihan. 

Terlalu banyak pula manusia yang menghamba pada keseluruhan perilaku tak terpuji. Hasilnya, tipis batas antara akal sehat dan laku laknat. 

Pada titik ini, kiranya sikap berani diam diri menjadi penting. Semakin jarang orang melakukan karena takut dianggap tidak waras. 

Adalah resiko! Jika ingin meningkatkan kualitas akal sehat harus berani disebut tidak sehat. 

Mari berdiam diri, mendengar keluh kesah nurani. #


Posting Komentar

0 Komentar