Sebenarnya sudah jelas. Antara duit dan kebahagiaan, mana yang harus dipilih. Tetapi yang menarik adalah dari perpektif mana, kita memilih. Perfekstif ternyata mampu mempengaruhi jatuhnya pilihan.
Dua hal yang sama-sama penting. Duit berguna dengan kelansungan hidup duniawi. Kebahagiaan juga penting demi ketenangan menjalani pekerjaan sehari-hari. Dua hal yang tak terpisahkan. Dan dua hal yang sangat penting. Penting sekali!
Tapi tidak kalah pentingnya adalah motif atau perfektif yang kita gunakan untuk melihat dua variabel tersebut. Ambil contoh, di era pandemi covid-19 ini semua dianggap darurat. Keberlangsungan hidup dipertaruhkan karena seluruh aktivitas lockdown. Pada titik inilah, bantuan kemanusiaan menjadi penting. Uang untuk bertahan hidup adalah segalanya.
Karantina (terutama karantina mandiri) akan berjalan dengan baik, manakala ada dukungan dana/uang/duit dari berbagai pihak. Nah! Inilah salah satu contoh yang mendorong pentingnya persepsi tentang duit.
Lantas dimana kebahagiaan?
Absurd! Nilai kebahagiaan mungkin terdistorsi. Dimana kebehagiaan material (bendawi) lebih diunggulkan. Padahal dalam kesejatian konsep kebahagiaan, tak ada nominal setinggi apapun untuk menghargai kebahagiaan.
Tapi di era pandemi ini, kebahagiaan itu sebatas 'bantuan sosial'. Tanpan itu, niscaya kegelisahan yang berujung pada tindak irrasional pun terjadi. Jadi, Anda pilih perspektif yang mana? #CE
0 Komentar