Seluruh hadirin yang memenuhi
aula Samantha Krida, Universitas Brawijaya Malang gempar. Pasalnya, Sastro
Kenthir salah satu peserta sarasehan seni, mengaku telah bertemu dengan Tuhan.
Kyai Denun yang menjadi penyaji makalah juga terheran-heran. Apakah Sastro
Kenthir kini telah menganut aliran menclek? Atau memang otaknya yang
menclek? Atau memang tuhan-nya Santri Kenthir yang menclek sehingga bisa
ditemui sembarangan.
“Bisa kamu jelaskan bagaimana bisa kamu
bertemu Tuhan?” tanya Kyai Denun. Sementara para peserta sarasehan yang
rata-rata mahasiswa menunjukkan raut muka tegang.
Santri Kenthir tidak segera menjawab. Dia
malah clingukan mencari korek api yang ternyata tertindih kakinya sendiri.
“Saya ketemu tuhan di depan kecamatan, di
trotoar, dan di hotel belakang Malang Plasa dekat Pasar Besar,” ucap Sastro
Kenthir enteng. Namun hadirin bertambah tegang. Raut wajah mahasiswa-mahasiswa
yang gondrong mulai ditekuk. Bahkan ada yang giginya gemerak. Geram pada
keberanian Sastro Kenthir.
“Kamu jangan ngawur, Tro….!” seru Kyai
Denun yang mulai dihinggapi rasa cemas. Jangan-jangan ada kaum relijius
radikal yang ikut sarasehan lantas mengeroyok Sastro Kenthir atau
membubarkan sarasehan.
“Tolong jelaskan, Mas…!”
“Jangan ngawur!”
“Anda mabok…..ya!”
“Mana ada tuhan di depan kecamatan….please
deh ach….! Ini forum ilmiah gitu loh…!” seru cewek modis yang duduk
menggelendot pacarnya sambil mengikuti sarasehan.
“Kyai sebagai pembicara harus mampu
menjelaskan maksud peserta yang bernama Sastri Kenthir itu!” serun yang
lainnya.
Dicerca seperti itu, Kyai Denun kelabakan
juga. Sebab saat mempersiapkan makalah tidak membahas soal aliran menclek.
Untunglah kyai asal Jombang ini memiliki kekuatan improvisasi majenun.
“Bisa kamu jelaskan….kenapa tuhan begitu
nge-fans sama kamu sehingga bisa kamu temui dimana saja?” tukas Kyai Denun
sambil otaknya berputar mengarang pertanyaan lanjutan.
“Tuhan adalah penentu nasib umat manusia.
Coba kyai dan hadirin cermati; barisan kaum miskin antre sumbangan ‘recehan
langsung’ di kantor kecamatan. Sepertinya mereka akan mati jika tak dapat duit
itu. Juga pamong praja yang nyaduki dagangan pengasong disudut-sudut
trotoar, lantas para PSK yang menggantungkan hidupnya di hotel-hotel di
belakang hotel ‘bintang tujuh’ belakang Pasar Besar Malang ini,” ucap Sastro
Kenthir nyerocos.
Hadirin terkesima.
“Jelaskan….jangahn berbelit-belit
begitu….,” pinta Kyai Denun.
“Tuhan yang saya temui berupa uang BLT
yang menentukan nasib orang miskin, pamong praja yang merampas takdir hidup
pedagang kecil, juga cukong-cukong yang menentukan takdir perempuan yang
di-bookingnya. Mereka seorang menjadi tuhan penentu nasib orang yang lemah,”
jelas Sastro Kenthir.
Kyai Denun terdiam. Hadirin pun menghela
napas berat.
“Kalau begitu tuhan kemarin datang ke
Istana Negara untuk membeli utangan yang nantinya akan menentukan ‘nasib baik’
negeri ini,” celetuk Kyai Denun.
“Betul…tuhan juga ada di kampus-kampus
berupa tingginya SPP yang merampas hal belajar mahasiswa miskin,” sambung
Sastro Kenthir.
Kontan hadirin yang rata-rata mahasiswa
bersorak. **

0 Komentar